This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Wednesday, 28 December 2011
11:27:00 am
Unknown
Friday, 16 December 2011
5:20:00 pm
Unknown
1. Jangan mencoba untuk memaksakan belajar dalam satu sesi
Biasanya, para pelajar yang sukses selalu meluangkan waktu belajarnya lebih pendek dan jarang memaksakan mempelajari seluruhnya dalam satu atau dua sesi. Kuncinya, belajarlah dengan konsisten dan lakukan secara reguler meskipun dalam waktu singkat.
4:40:00 pm
Unknown
| Warta |
| WASPADA ONLINE TOBASA - Sebanyak 13 kelompok pengabdi lingkungan penerima penghargaan Kalpataru Sumatera Utara, akan menyampaikan deklarasi sebagai komitmen melestarikan lingkungan dan seruan penyelamatan Danau Toba di depan Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta. “Dokumen deklarasi akan diserahkan lima orang utusan kader lingkungan hidup pada acara revitalisasi peran para penerima Kalpataru, Kamis (20/10) di Taman Eden Kecamatan Lumbanjulu, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara,” ujar Ketua Yayasan El Shaddai, Marandus Sirait, tadi sore. Ia mengatakan, penyampaian deklarasi bertujuan untuk membangun kesatuan dan kesamaan persepsi di antara para penerima Kalpataru sebagai bentuk komitmen terhadap kepedulian perbaikan kualitas ekosistem Danau Toba yang dewasa ini kian terganggu keseimbangannya. Sejak tahun 1980 hingga 2011, pemerintah telah menganugerahkan Kalpataru kepada 285 masyarakat yang tersebar di berbagai daerah dan 13 kelompok, di antaranya berasal dari Provinsi Sumatera Utara. Marandus, yang juga penerima Kalpataru kategori Perintis Lingkungan tahun 2005 itu menyebutkan, dirinya merasa ngeri memikirkan dampak yang terjadi atas kerusakan ekosistem danau Toba, sebab jika terus dibiarkan degradasinya akan semakin parah, ditambah pembalakan liar terhadap kawasan hutan di wilayah tersebut. Memang, kata dia, gerakan moral serta tanggungjawab menyelamatkan danau kebanggaan bangsa tersebut merupakan panggilan nurani dan bukan keterpaksaan, yang tentunya harus diperlihatkan dengan aksi nyata. Sebab, lanjutnya, keindahan alam merupakan suatu karunia Tuhan yang sangat berharga dalam kehidupan manusia yang jika dimanfaatkan dengan baik akan berpengaruh positif menuju masyarakat sejahtera, dan sebaliknya bisa mengakibatkan kesengsaraan bagi kehidupan masyarakat. “Dengan pernyataan sikap ‘Clean up The Lake dan Green up The land’ mari kita selamatkan Danau Toba, sebab kekayaan alamnya yang luar biasa sudah termasuk dalam daftar keajaiban dunia,” kata Marandus. Menurutnya, kondisi danau terbesar di Asia Tenggara tersebut sudah semakin kritis, sebab dari luas 260 ribu hektar, sekitar 100 ribu hektar ekosistemnya sudah rusak, dan keindahannya dikotori sampah dan polusi, bahkan hutan sebagai resapan air pun banyak yang telah dibakar. Dikatakannya, kegiatan revitalisasi peran penerima Kalpataru tersebut guna mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan dan pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Pusat PLH Eko Region Sumatera, serta para penerima Kalpataru dari berbagai wilayah. Editor: SUWANDI |
Thursday, 24 November 2011
11:44:00 am
Unknown

Yunanto Wiji Utomo | Heru Margianto | Jumat, 18 November 2011 | 11:02 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Bulus raksasa yang ditemukan di Ciliwung pada Jumat (11/11/2011) lalu diketahui merupakan spesies Chitra chitra javanensis, satwa langka yang dilindungi menurut PP7/1999 dan masuk Red List International Union for Conservation of Nature (IUCN). Karenanya, langkah konservasi harus dilakukan.
Pakar herpetologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung, Djoko Tjahjono Iskandar, yang dihubungi Kompas.com, Kamis (17/11/2011), mengatakan, konservasi yang paling tepat adalah di di kebun binatang. "Atau tempat seperti Taman Safar," kata dia.
Menurutnya, kondisi habitat Ciliwung sudah rusak dan banyak menghadapi tekanan dari warga kota Jakarta. Di samping itu, perhatian pada biodiversitas Ciliwung sangat minim bila dibandingkan dengan wilayah konservasi lainnya.
Menurut Djoko, penangkaran di kebun binatang memungkinkan bulus mendapatkan kondisi lingkungan yang lebih mendukung. Di samping itu, dengan penangkaran, penelitian terhadap bulus raksasa itu akan lebih mudah dilakukan. Untuk penangkaran sendiri perlu penelitian tentang reproduksi dan pakan.
Namun, ia mengatakan, penangkaran di kebun binatang akan menghadapi tantangan dalam metode maupun pendanaan. Tempat yang cukup besar harus disediakan karena bulus tersebut biasa hidup di sungai besar.
Selain itu, jumlah individu, yang ditangkarkan juga harus memadai sehingga kemungkinan kawin dan mendapatkan keturunan juga lebih tinggi, minimal 20 individu. Penyediaan pakan juga akan menjadi tantangan jika jumlah individu banyak, sebab pasti akan memakan dana besar.
Chitra chitra javanensis, terang Djoko, merupakan salah satu spesies bulus terbesar yang ada di dunia. Bulus raksasa itu adalah satu dari dua spesies bulus di Indonesia yang berwarna hitam. Karenanya, bulus ini perlu untuk dilestarikan.
Chitra chitra javanensis tersebar di Jawa, Sumatera dan Thailand. Populasi satwa ini belum diketahui dengan pasti. Kebun binatang Ragunan hanya memiliki satu ekor satwa langka tersebut.
Source: http://sains.kompas.com/read/2011/11/18/1102295/Di.Mana.Tempat.Konservasi.Terbaik.bagi.Bulus.Raksasa
Friday, 12 August 2011
7:39:00 pm
Unknown
KOMPAS.com - Bagi Anda yang tengah berburu beasiswa, ada baiknya mempersiapkan segala sesuatu sejak sekarang. Sebab, ada sejumlah tahap yang harus dilalui untuk memenangkan sebuah beasiswa. Tak cukup hanya mengisi formulir sesuai ketentuan, mengajukan esai yang menakjubkan, atau pun menyertakan surat rekomendasi yang meyakinkan. Beberapa pendonor beasiswa mensyaratkan wawancara sebagai penentu, siapa kandidat yang mereka pilih. Nah, mari bersiap diri, siapa tahu Anda akan menjadi salah satu kandidat yang diwawancara!
1. Ajak seseorang untuk berlatih mewawancarai Anda
Ini adalah ide baik yang bisa Anda lakukan untuk melatih kemampuan wawancara sebelum Anda diwawancara. Dengan bantuan salah seorang anggota keluarga, Anda bisa mereka-reka pertanyaan yang akan diajukan oleh panitia nantinya.
Misalnya:
* Apa prestasi akademik terbesar Anda?
* Apa kegiatan ekstrakurikuler yang Anda ikuti?
* Bagaimana cara Anda menghadapi hambatan besar dalam hidup?
* Apa penghargaan yang pernah Anda menangkan?
* Apa yang ingin Anda lakukan setelah lulus dari perguruan tinggi?
* Bagaimana Anda melihat diri Anda ketika telah menjadi sarjana?
2. Datang tepat waktu
Pada hari wawancara, jangan terlambat! Hal tersebut bisa menjadi nilai tambah dan membuat kesan baik dengan tiba lebih awal. Terlihatlah sebagai seorang profesional.
3. Menjaga sikap
Cobalah untuk tidak gelisah atau tampak gugup saat wawancara. Duduk diam dan buatlah kontak mata dengan pewawancara. Buat posisi tubuh Anda terlihat tenang dan terkesan profesional. Jangan takut dengan setiap jawaban yang Anda berikan. Karena gumaman seperti ”um” atau ”ah” dapat membuat jawaban Anda terlihat ragu-ragu dan tampak tidak yakin.
4. Berpakaian sopan dan tepat
Anda tidak harus berpakaian secara formal, tapi semi formal yang tepat untuk wawancara beasiswa. Celana panjang dan kemeja panjang adalah paduan yang tepat untuk wawancara seperti ini. Tapi bagi pria, jas dan kemeja akan membuatnya terkesan lebih profesional. Sedangkan gaun atau rok serta kemeja bisa menjadi paduan tepat bagi wanita muda. Namun, apapun pakaiannya, usahakan agar tidak ada kerut.
5. Mengetahui diri sendiri
Selain menyadari tindakan dan tubuh Anda, Anda harus menyadari apa yang Anda katakan. Jika Anda tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan, jangan mencoba untuk menjawab dengan jawaban palsu. Mintalah penjelasan lebih lanjut atau katakan Anda tidak tahu. Hal ini juga menunjukkan bahwa Anda menyadari seberapa jauh pengetahuan Anda ketika menjawab lebih cepat.
6. Ajukan sedikit pertanyaan
Sementara menunggu waktu wawancara, siapkan beberapa pertanyaan untuk panitia. Pertanyaan mengenai pemberi beasiswa atau sponsor beasiswa jika hal tersebut tidak dijelaskan dalam formulir aplikasi beasiswa. Memiliki beberapa pertanyaan seperti itu, membuat Anda terlihat siap. Selain itu, Anda terkesan nyaman dengan bahan yang anda pelajari.
7. Cobalah untuk tidak terlalu gugup
Tidak diragukan lagi, bahwa banyak pewawancara menginginkan si pelamar menjadi gugup. Jadi bersiaplah. Persiapkan diri dengan baik dan jangan tunjukkan bahwa kamu gugup. Coba Anda pikirkan: aplikasi saya sudah cukup baik, sehingga saya bisa menyisihkan beberapa calon penerima. Ini sudah memasuki setengah pertempuran!
Biarkan fakta bahwa Anda dipilih dari banyak orang tumbuh di kepala Anda. Hal ini bisa membuat kepercayaan diri Anda semakin bertambah.
Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2011/07/29/0923435/Yuk.Bersiap.Hadapi.Wawancara.Beasiswa
Sunday, 24 July 2011
11:18:00 pm
Unknown
ABSTRACT
Coastal zone of Dumai, Riau Province has many plants/industries, a port, and its activities. These activities have given contribution of pollutants in coastal water. Besides, coastal society also rely on this natural resources to fulfill their livelihood. Coastal society is a stakeholder to observe coastal water quality at their every activity around the coastal zone. The purpose of this research is to determine negative perceptions of coastal society on coastal water quality by using Likert Scale Assessment Analysis Methods. Data collecting was conducted by direct interview and FGD. The result showed that coastal society has a negative perception on the water quality (34%). It indicated that coastal water quality of Dumai is polluted, so that coastal society can not exploits the coastal and marine water resources especially for fishermen because it’s the major source of their livelihood.
Keywords: coastal zone of Dumai, coastal society, perception, coastal water quality
Download
Monday, 11 July 2011
7:30:00 pm
Unknown

Visit at http://www.lsu.edu/cei/ 1209 Energy Coast and Environment Building
School of the Coast and Environment
Louisiana State University
Baton Rouge, Louisiana, 70803
Director: Dr. Dubravko Justic
Assistant Director: Dr. Charles Sasser
Administrative Specialist: Terry Wimberly
Tel: 225 - 578 - 6515
Fax: 225 - 578 - 6326
Email: wimberly@lsu.edu
Saturday, 9 July 2011
11:30:00 am
Unknown
Inggried | Selasa, 5 Juli 2011 | 08:42 WIB
KOMPAS.com - Punya banyak koleksi buku? Masih ingatkah Anda, buku apa saja yang pernah dibaca dan apa inspirasi yang Anda dapatkan dari buku itu? Jika Anda menjawabnya, "Aduh, sudah lupa", atau bahkan sama sekali tak ada kesan dari buku yang Anda baca, bisa jadi, cara membaca yang diterapkan selama ini tidak efektif. Penulis buku "101,5 Inspirasi Kecerdasan Emosional Anak Muda" yang juga pakar EQ, Anthony Dio Martin membagi 3 cara yang bisa diterapkan untuk membaca secara efektif dan mendapatkan manfaat dari apa yang Anda baca. Apa saja triknya?
Pertama, terapkanlah teknik membaca kontemplatif. "Ketika membaca buku, jangan dari awal sampai akhir lewat begitu saja, kemudian lupa apa yang dibacanya," kata Anthony, di arena Pesta Buku Jakarta 2011, di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (3/7/2011).
Bagaimana cara membaca kontemplatif? Anthony menjelaskan, saat membaca buku, peganglah pensil atau pulpen. Beri catatan pada bagian yang menurut Anda menarik. Catatan itu bisa berupa komentar, ketidaksamaan pendapat atau apa pun.
"Itu kan buku Anda sendiri, tidak masalah jadi penuh coretan. Caranya, pegang buku, pegang pensil dan bolpen, corat coret. Biar saja. Kasih komentar di bagian yang dibaca. Coretan ini akan melatih, mencerdaskan pikiran Anda. Tandai, kasih komentar. Lingkari, kasih tanda seru atau memberi pendapat tentang apa yang Anda baca. Misal, anda tidak suka, tidak sependapat,dan sebagainya. Jangan biarkan buku tetap rapi," paparnya.
Trik kedua, buatlah mind mapping. Caranya, membuat garis besar isi buku setelah selesai membacanya.
Dan ketiga, berikan catatan pada notes kecil untuk mencatat ide yang muncul dari buku yang Anda baca. "Pengetahuan tidak ada artinya kalau tidak memunculkan ide. Misalnya, bikin catatan-catatan dari baca buku ini (yang dibaca), apa yang Anda dapatkan. Sebuah buku akan berkesan kalau berhasil membuat kita terinspirasi dan membuat kita punya ide untuk melakukan sesuatu," kata Anthony.
Source: http://edukasi.kompas.com/read/2011/07/05/08425625/3.Trik.Membaca.Buku.Lebih.Efektif
Friday, 8 July 2011
5:06:00 pm
Unknown
KOMPAS.com - Total emisi karbon dioksida yang dihasilkan manusia di seluruh dunia jauh lebih besar daripada emisi alami yang dikeluarkan alam misalnya dari aktivitas gunung berapi. Hasil riset menunjukkan, emisi karbon dioksida manusia 135 kali lebih banyak dibandingkan emisi seluruh gunung api dalam rentang waktu yang sama. Jumlah karbon dioksida yang dikeluarkan manusia dalam tiga hari setara dengan jumlah karbon dioksida yang dihasilkan gunung-gunung api.
"Banyak yang bilang gunung api mengeluarkan CO2 lebih banyak daripada manusia. Tapi, mereka tidak pernah mengeluarkan angka pastinya," kata Terrence Gerlach, ahli gunung api yang sudah pensiun yang pernah bekerja untuk Cascade Volcano Observatory, bagian dari US Geological Survey di Vancouver.
Para peneliti kemudian memperkirakan emisi karbon dioksida gunung-gunung api dengan mengukur jumlah karbon dioksida yang dilepaskan saat erupsi. Metode yang digunakan ada beberapa. Di antaranya, memindai awan yang dihasilkan letusan gunung api, serta mengukur konsentrasi isotop di sekitar gunung api. Gerlach mengatakan bahwa letusan gunung api adalah kejadian luar biasa. Menurutnya, letusannya tampak hebat di televisi, tapi kejadian itu hanya sesaat.
"Bandingkan dengan sumber lain--asap pabrik, kendaraan, dan lainnya--yang mengeluarkan CO2 24 jam per hari," katanya. Pembukaan hutan saja mengakibatkan emisi sekitar 3,5 miliar ton per tahun. Mobil dan truk besar menghasilkan 2 miliar ton. Produksi semen menghasilkan 1,4 miliar ton karbon dioksida. Demikian Gerlach memberikan gambaran. "Hal itu saja sudah melebihi emisi yang dikeluarkan gunung api," katanya.
Para peneliti memperkirakan seluruh gunung api mengeluarkan 0,13 hingga 0,44 miliar ton per tahun. Sementara manusia mengeluarkan emisi 35 miliar ton pada tahun 2010. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)
Source: http://sains.kompas.com/read/2011/07/04/15435519/Manusia.Lebih.Kotor.ketimbang.Alam
5:01:00 pm
Unknown
K1-11 | Glori K. Wadrianto | Minggu, 3 Juli 2011 | 13:37 WIB
Pongo Abelii alias Orangutan Sumatera
DENPASAR, KOMPAS.com — Tahukah Anda bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki jenis primata paling bervariasi di dunia? Dari 200 jenis primata yang tercatat di muka Bumi, di Indonesia terdapat 40 jenis atau sekitar 25 persen.
Ironinya, dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen terancam punah akibat banyak habitat primata yang rusak dan penangkapan ilegal untuk diperdagangkan. ProFauna Indonesia mencatat setiap tahunnya ribuan kera hasil tangkapan alam diperdagangkan di Indonesia untuk dikonsumsi atau dijadikan satwa peliharaan.
"Sampai saat ini masih ada pengiriman. Kalau dipelihara sepertinya hanya sedikit, lebih banyak dikonsumsi, otak dan dagingnya," kata Ketua Pro Rosek Nursahid di sela-sela kampanye penyelamatan primata di Renon, Denpasar, Minggu (3/7/2011).
Tingginya angka konsumsi primata di Indonesia terjadi karena sebagian masyarakat masih percaya mitos bahwa kera dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, salah satunya asma, meski sampai saat ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.
Akibat eksploitasi yang membabi buta ini, sedikitnya 4 primata asal Indonesia benar-benar akan punah jika tidak segera diselamatkan. Mereka adalah orangutan sumatera (Pongo abelii), kukang jawa (Nyeticebus javanicus), tarsius siau (Tarsius tumpara), dan simakubo (Simias cocolor).
Menyelamatkan mereka tak cukup dengan mengandalkan kepedulian para LSM pecinta satwa saja, tetapi kesadaran dari seluruh masyarakat dan pemerintah untuk saling mengingatkan pentingnya menjaga habitat bangsa kera dan monyet yang merupakan bagian dari kekayaan alam Indonesia ini.
Source: http://sains.kompas.com/read/2011/07/03/13373495/4.Spesies.Primata.Indonesia.Nyaris.Punah
4:56:00 pm
Unknown
Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Jumat, 8 Juli 2011 | 14:40 WI
KOMPAS.com - Spesies beruang kutub yang ada sekarang diperkirakan berasal dari satu spesies beruang coklat yang hidup 20.000 - 50.000 di wilayah yang kini dikenal dengan Irlandia. Hal itu dikemukakan dalam publikasi ilmuwan di jurnal Current Biology baru-baru ini.
Para ilmuwan mendapatkan hasil tersebut setelah melakukan analisis DNA Mitokondria dari 242 beruang kutub dan beruang coklat yang masih hidup maupun yang telah memfosil. DNA miktokondria lain dengan DNA inti sel sebab hanya diturunkan dari induk (ibu) ke anakan.
"Kami menemukan bahwa garis ibu (DNA Mitokondria) dari beruang kutub memiliki kesamaan dengan moyang yang relatif baru yang pernah hidup di Pantai Atlantik wilayah Irlandia," kata Daniel Bradley, profesor dari Trinity College, Dublin, yang terlibat dalam penelitian ini.
Beruang kutub berbeda dengan beruang coklat. Beruang kutub memiliki tampakan luar berwarna putih dan karnivora. Sementara, beruang coklat memiliki ukuran yang lebih kecil, hidup di lingkungan yang lebih hangat, berwarna coklat serta memakan tumbuhan dan hewan kecil.
Sebelum penemuan ini, dipercaya bahwa moyang beruang kutub adalah dari Alaska dan hidup sekitar 14.000 tahun yang lalu. Dengan penemuan ini, bukan saja lokasi moyang beruang kutub saja yang berubah, tetapi juga waktu hidup yang mundur ke belakang dengan rentang 6000 - 36.000 tahun.
Hasil penemuan ini menarik sebab dalam beberawa waktu terakhir, hibrida beruang kutub dan beruang coklat ditemukan di wilayah Artik. Para Biolog mengatakan bahwa hibridisasi ini krusial saat es di laut Artik terus mengalami pelelehan.
Beth Shapiro dari Pennsylvania State University yang memimpin studi ini mengatakan, "Beruang kutub dan beruang coklat yang saat ini hibrid di alam liar sebenarnya telah melakukannya dalam kurun waktu 100 ribu tahun terakhir."
Lebih lanjut, Shapiro mengatakan bahwa ilmuwan harus mempertimbangkan kembali upaya konservasi sehingga tidak hanya fokus pada beruang kutub tetapi juga hibridanya. Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), saat ini hanya ada 20 ribu hingga 25 ribu beruang kutub di alam liar.
Source: http://sains.kompas.com/read/2011/07/08/14401347/Moyang.Beruang.Kutub.dari.IrlandiaThursday, 16 June 2011
7:25:00 pm
Unknown
Lebak (ANTARA News) - Ribuan ikan mati di Sungai Cimadur Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten diduga karena sungai tersebut tercemar limbah pengolahan lumpur emas di wilayah itu.
"Kami merasa prihatin setelah melihat langsung ke lapangan ribuan ikan mati di Sungai Cimadur," kata anggota DPRD Lebak Erwin Komara Sukma di Rangkasbitung.
Ia menduga kematian ikan-ikan itu akibat aktivitas pengolahan lumpur emas di wilayah tersebut yang membuang limbah ke Sungai Cimadur yang digunakan warga untuk keperluan mandi, cuci dan kakus (MCK).
"Limbah lumpur emas itu sangat membahayakan karena mengandung merkuri dan sianida," ujarnya.
Namun demikian, perlu penelitian untuk membuktikan klaim itu dan anggota DPRD itu meminta Kantor Lingkungan Hidup (KLH) setempat untuk segera meneliti limbah itu.
"Saya berharap KLH bisa melakukan penelitian limbah itu," katanya.
Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Reformasi Jaringan Masyarakat (Rajam) Kabupaten Lebak Epi Yudhistira menyatakan, saat ini beberapa sungai di wilayah selatan sudah tercemari limbah akibat kurangnya pengawasan dari pemerintah daerah.
"Lemahnya pengawasan membuat para penambang emas membuang limbah ke sungai," katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak Babay Imroni menyatakan akan menerjunkan tim untuk mencek pencemaran limbah di daerah aliran sungai (DAS) Cimadur.
"Kami minta waktu sepekan untuk meneliti air limbah Sungai Cimadur," katanya.(*)
KR-MSR/Z002
Editor: Jafar M Sidik
Source: http://www.antaranews.com/berita/263252/tercemar-limbah-tambang-ribuan-ikan-mati
7:19:00 pm
Unknown
Dumai (ANTARA News) - Sungai Dumai yang membelah daratan di Kota Dumai, Riau, hingga menjadi dua bagian yakni Barat dan Timur saat ini terus melebar tergerus terjangan abrasi hebat hingga 45 meter, kata Ketua Pecinta Alam Bahari Dumai, Darwis Mhd Saleh, Minggu.
Hebatnya terjangan abrasi di Sungai Dumai disebabkan banyaknya sejumlah kapal besar berdaya angkut ratusan bahkan ribuan ton yang "merayap" masuk melintasi alur sungai Dumai, kata Darwis.
"Kondisi ini sangat memprihatinkan. Bayangkan, sungai Dumai yang tadinya hanya selebar 10-15 meter, saat ini sudah mencapai 50-60 meter," kata dia.
Selain kapal besar, juga karena gerusan abrasi yang membuat minimnya tanaman bakau bersejarah yakni bakau belukap atau "riizophora mucronata" yang tadinya membudidaya di alur sungai Dumai.
"Kita sangat mengharapkan dukungan pemerintah setempat agar ada pembatasan terhadap kapal-kapal yang masuk dan beraktivitas di sungai Dumai. Karena jika secara terus-menerus kapal bermuatan diatas 100 ton melintasi sungai Dumai, maka tingkat gerusan akan semakin deras," jelasnya.
Kondisi tersebut, kata Darwis, sudah barang tentu akan semakin menenggelamkan bakau belukap yang memiliki sejarah atau legenda "Putri Tujuh".
Legenda Putri Tujuh menurut cerita masyarakat setempat, merupakan legenda atau sejarah terbentuknya Kota Dumai.
Darwis mengungkapkan, saat ini di kota dumai terdapat lebih sembilan pelabuhan yang masih aktif disinggahi oleh kapal-kapal besar pengangkut barang impor.
Menurut dia, sejumlah pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan tikus yang tidak memiliki izin operasi alias ilegal.
"Tapi entah apa sebab, pemerintah setempat seperti Dinas Perhubungan dan polisi tidak tahu menahu, mereka terkesan `tutup mata," ungkapnya.
Penelusuran Koresponden ANTARA di Dumai menyebutkan, saat ini di sepanjang alur Sungai Dumai tercatat ada sekitar sembilan pelabuhan tikus yang biasanya dimanfaatkan oleh sejumlah importir untuk menyelundupkan berbagai barang ke Indonesia.
Salah satunya, yakni Pelabuhan Sungai Beruang di Kelurahan Pelintung, Kecamatan Medang Kampai. Kemudian Pelabuhan Sungai Kemeli dan Pelabuhan Arang di Kelurahan Mundam, yang juga di Kecamatan Medang Kampai.
Pelabuhan lainnya yakni Pelabuhan Tanjung Palas, Kelurahan Tanjung Palas dan Pokala di Kelurahan Buluh Kasap, Kecamatan Dumai Barat.
Sementara empat pelabuhan tikus di sungai Dumai lainnya meliputi Pelabuhan TPI Lama, Petak Panjang, Sungai Dumai, Pelabuhan Nasir serta Pelabuhan Ayan, berada di Kecamatan Dumai Timur.
Sejumlah pelabuhan tikus tersebut dikabarkan mulai berdiri sejak belasan tahun silam dan hingga sekarang masih aktif dimanfaatkan sebagai jalur transit barang selundupan seperti pakaian bekas, elektronik bahkan minuman keras.
Kapal-kapal yang kerap menyusup singgah di sejumlah pelabuhan tikus ini juga memiliki daya angkut diatas 200 ton. Aktifitas mereka terus marak tanpa ada tindakan tegas pemerintah dan aparat kepolisian setempat.
(KR-FZR/R010)
Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011
Source: http://www.antaranews.com/berita/259673/sungai-dumai-tergerus-abrasi-hingga-45-meter
Monday, 6 June 2011
8:31:00 pm
Unknown
BOGOR, KOMPAS.com - Beberapa spesies kelelawar di Indonesia sudah sulit ditemukan. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Ibnu Maryanto, peneliti kelelawar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di sela acara Konferensi Internasional Kelelawar Asia Tenggara 2 hari ini (6/6/11) di Bogor.
Jenis kelelawar yang sudah sulit ditemukan itu antara lain Otomops johnstonoi yang endemik wilayah Alor dan Neopterus trostii yang biasa ditemukan di wilayah Sulawesi. "Sudah sulit ditemukan spesies itu. Paling cuma 1 atau 2 individu yang ditemukan," ujar Ibnu.
Menurut Ibnu, salah satu tekanan bagi kelelawar adalah perusakan kawasan karst atau perbukitan kapur di mana terdapat gua tempat kelelawar hidup. Faktor lain adalah berkurangnya jenis tumbuhan yang biasa menjadi sumber makanan kelelawar pemakan buah. "Hilang satu tumbuhan, hilang juga kelelawar," cetus Ibnu.
Ibnu mengatakan, sulit ditemukannya spesies kelelawar tertentu sangat disayangkan. Pasalnya, kelelawar memainkan peranan penting dalam ekosistem. Misalnya perannya dalam penyerbukan bunga, pengendalian populasi serangga oleh kelelawar pemakan serangga dan suplai energi bagi biota yang hidup dalam gua.
"Banyak buah seperti rambutan, durian dan duku penyerbukan bunganya dibantu kelelawar. Kalau kelelawar hilang, buah pun bisa lenyap," urai Ibnu. Menurutnya, salah satu sebab terganggunya panen rambutan, duku, durian, dan mangga tahun lalu adalah berkurangnya jumlah kelelawar yang menyerbukka bunganya.
Tanggung jawab biodiversitas
Kepala LIPI Prof. Dr. Lukman Hakim mengungkapkan, Indonesia merupakan negara megabiodiversity. Oleh karena itu, Indonesia memikul tanggung jawab besar dalam pelestarian biodiversitas, termasuk kelelawar. Menurutnya, pelestarian kelelawar bisa dibantu dengan pemanfaatan kebun raya untuk konservasi ex situ.
Lukman mengungkapkan, "Indonesia idealnya mempunyai 54 kebun raya. Kebun raya itu terutama berfungsi untuk aktivitas penelitian, konservasi dan pendidikan. Kemudian untuk wisata."
Menurut Lukman, kebun raya sangat potensial untuk pendidikan bagi generasi muda sehingga memiliki kesadaran konservasi. Sementara, Ibnu mengatakan bahwa perlindungan kelelawar bisa dilakukan dengan memelihara kawasan karst.
"Kan sudah ada aturan kawasan karst yang bisa ditambang dan tidak. Yang ada kelelawar dan wallet kan nggak boleh ditambang. Tapi, kenyataannya sekarang kelelawarnya diusir dulu baru ditambang," ungkapnya.
Jika perlindungan kelelawar tidak dilakukan, maka ada konsekuensi yang muncul. Karena berkurangnya populasi pengontrol, maka nyamuk malaria bisa meningkat dan meningkatkan pula wabah malaria.
"Karena kelelawar itu dalam satu jam bisa makan 6.000 nyamuk," kata Ibnu.
Konsekuensi lain ialah terganggunya produksi beberapa buah. Saat ini, menurut Ibnu, ada 225 jenis kelelawar tersebar di Indonesia. 150 jenis di antaranya merupakan pemakan serangga dan 75 lainnya pemakan buah.
Indonesia menurutnya merupakan negara dengan keanekaragaman hayati kelelawar tinggi, kurang lebih 11 persen dari total jumlah spesies kelelawar dunia. Jika dieksplorasi, menurut Ibnu, masih ada 10 spesies kelelawar yang bisa ditemukan per tahunnya di Indonesia.
Share
Source: Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Senin, 6 Juni 2011 | 16:28 WIB
http://sains.kompas.com/read/2011/06/06/16284216/Sebagian.Kelelawar.Sudah.Sulit.Ditemukan
8:28:00 pm
Unknown
BOGOR, KOMPAS.com — Kelelawar adalah salah satu hewan yang berperan dalam penyerbukan pohon yang menghasilkan buah. Maka dari itu, kalau populasi kelelawar menyusut bahkan punah, maka buah-buah yang penyerbukannya tergantung padanya pun bisa lenyap. Demikian salah satu hal yang mengemuka dalam Konferensi Internasional Kelelawar Asia Tenggara ke-2 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Senin ini hingga Rabu (9/6/2011) di Bogor.
Konferensi yang diikuti ilmuwan dari 20 negara ini mengangkat tema "Zoonosis dan Peran Kelelawar dalam Keseimbangan Ekosistem." Beberapa ilmuwan kelelawar yang hadir antara lain Tigga Kingston dari Texas Tech University dan Paula Racey dari University of Exeter. Sementara itu, dari Indonesia hadir Dr Siti Nuramaliati Prijono dan Dr Ibnu Maryanto dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. Beberapa di antara mereka memaparkan hasil penelitiannya.
Menggarisbawahi tema konferensi, Siti mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian, 186 spesies tumbuhan obat, penghasil kayu, dan sumber makanan tergantung pada kelelawar jenis Megachiroptera. "Kelompok jenis ini adalah pemakan buah tropikal hutan dan membuang sepah bijinya jauh dari lokasi tumbuhan. Oleh karenanya, ia dijuluki agen pemencar biji," urai Siti.
Ibnu juga menambahkan bahwa 52 jenis tumbuhan di Kebun Raya Bogor bergantung pada kelelawar. Kelelawar, masih menurut Ibnu, juga berperan dalam penyerbukan pohon yang menghasilkan buah, seperti duku, rambutan, dan durian. "Kalau kelelawar hilang, buah pun bisa lenyap," ungkapnya.
Kelelawar juga berperan dalam pengendalian populasi serangga. "Tiap jam, kelelawar itu bisa makan 6.000 nyamuk," cetus Ibnu. Dengan demikian, kelelawar juga berperan dalam pengendalian wabah penyakit seperti malaria.
Siti menambahkan, "Kelelawar berfungsi sebagai predator alami hama pertanian dan salah satu pemakan hama utama padi."
Diakui, kelelawar pun bisa membawa penyakit zoonosis, seperti rabies, hendra, dan nipah yang membunuh 40 persen manusia yang terjangkiti. Namun, Ibnu mengatakan, "Kelelawar hanya sebagai pembawa, bukan penyebab penyakit." Penyakit nipah yang disebabkan oleh virus kali pertama ditemukan di Malaysia dan telah membunuh 105 manusia.
Saat ini, Indonesia memiliki 225 spesies kelelawar. Ibnu mengatakan, 150 di antaranya merupakan spesies pemakan serangga dan 75 lainnya merupakan spesies pemakan buah. Indonesia diketahui memiliki 11 persen dari total spesies yang ada di dunia. Sebanyak 10 spesies masih mungkin ditemukan per tahunnya jika eksplorasi dilakukan secara intensif.
Meski demikian, kelelawar kini menghadapi tekanan yang besar. Ini diakibatkan oleh aktivitas perusakan kawasan karst tempat gua habitat kelelawar. Beberapa jenis kelelawar, seperti Otomops johnstonoi yang endemis di wilayah Alor dan Neopterus trostii yang endemis wilayah Sulawesi, ikut terancam.
Kepala LIPI Prof Dr Lukman Hakim mengatakan, Indonesia sebagai negara mega-keanekaragaman hayati berkewajiban melindungi hal itu, termasuk kelelawar. Ia menyebut, upaya perlindungan bisa dilakukan dengan memanfaatkan kebun raya sebagai wilayah penelitian, konservasi, dan pendidikan.
Sementara itu, Ibnu mengatakan, perlindungan bisa dilakukan dengan melindungi kawasan karst. Menurutnya, dari konferensi ini, ilmuwan akan memberikan rekomendasi bagi pemerintah. "Kelelawar adalah spesies kunci. Kalau tidak ada kelelawar, maka hal itu akan mengganggu keseimbangan ekosistem," ungkapnya. Tentang perlindungan kawasan karst, menurutnya, peraturan pemerintah untuk mengatur hal itu sudah tersedia sehingga kita tinggal melihat pelaksanaannya.
Source: Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 6 Juni 2011 | 16:48 WIB
http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/06/06/1645578620X310.jpg
Friday, 27 May 2011
9:30:00 pm
Unknown
Aloysius Budi Kurniawan | Erlangga Djumena | Jumat, 27 Mei 2011 | 11:13 WIB
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Sejak tahun 1995, industri strategis Indonesia lumpuh. Di sisi lain, keran impor justru semakin dibuka lebar-lebar dan masyarakat cenderung dididik untuk konsumtif.
Demikian pernyataan mantan Presiden Prof BJ Habibie, Kamis (26/5/2011), dalam presidential lecture "Pembangunan Daya Saing Bangsa, Tantangan dan Pilihan Kebijakan" di Graha Sabha Pramana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. "Enam belas tahun sudah industri transportasi Indonesia sebagai salah satu industri strategis umpuh. Sebanyak 48.000 ahli teknologi Indonesia dibubarkan begitu saja," ungkapnya.
Menurut Habibie, Indonesia sebenarnya sudah memiliki industri-industri strategis seperti PT Dirgantara serta PT PAL yang mampu memproduksi pesawat terbang serta kapal berkelas internasional. Namun, industri-industri strategis tersebut dimatikan secara pelan-pelan sebelum berkembang pesat dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat Indonesia.
"Kini pintu ekspor dibuka lebar-lebar. Mal-mal yang sebagian besar memasarkan produk-produk luar negeri bertumbuhan. Masyarakat akhirnya justru dididik untuk semakin konsumtif," ucapnya.
Dalam kesempatan yang sama, mantan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sugiharto mengungkapkan, antara tahun 2009 dan 2010 pertumbuhan jumlah kendaraan roda dua meningkat pesat dari 5,8 juta unit menjadi 7,5 juta unit, sedangkan kendaraan roda empat naik dari 486.000 unit menjadi 700.000 unit. Ironisnya, semuanya adalah produk impor.
Menyikapi hal ini, Habibie menegaskan, penguasaan teknologi merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Tanpa adanya industri-industri strategis dalam negeri, lapangan pekerjaan dan jam kerja akan sulit tersedia.
Ia mencontohkan, di Indonesia saat ini terdapat 51,2 juta usaha mikro dan kecil atau sekitar 98,9 persen dari total jumlah pelaku usaha. Sementara jumlah usaha kecil sebesar 1,01 persen, usaha menengah 0,08 persen, dan usaha besar 0,01 persen.
Namun, sumbangan produk domestik bruto justru sebagian besar berasal dari usaha besar sebesar 44,4 persen, usaha menengah 13,4 persen, usaha kecil 10,1 persen, serta usaha mikro dan kecil 32,1 persen.
Perkuat industri dalam negeri
Menyikapi keprihatinan ini, Habibie menilai, dengan penguasaan teknologi, produksi usaha mikro dan kecil di Indonesia harus ditingkatkan sehingga memiliki nilai tambah. Karena itu, dibutuhkan produk hukum untuk melindungi pasar domestik, insentif keringanan pajak pada semua produk padat karya, dan pembatasan ketat terhadap produk-produk impor.
Sugiharto menambahkan, sejak tahun 2004 hingga 2010 APBN untuk pengentasan rakyat kemiskinan naik pesat sekitar 500 persen dari Rp 18 triliun menjadi Rp 90 triliun. Akant tetapi, pertumbuhan ini tak berbanding linear dengan penurunan tingkat kemiskinan yang hanya turun sangat kecil dari 16 persen menjadi 13 persen.
"Pemberdayaan sumber daya manusia di Indonesia perlu ditingkatkan daripada sekadar mengandalkan sumber daya alam yang ada. Salah satunya dengan cara pengembangan industri strategis yang diharapkan mampu menumbuhkan lapangan pekerjaan serta nilai tambah produksi," ujarnya.
Sumber: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/27/1113403/Industri.Strategis.Indonesia.Masih.Lumpuh
Saturday, 14 May 2011
10:57:00 am
Unknown
Labuhanbilik, Jurnal Labuhanbatu : Warga masyarakat yang bermukin sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) Barumun, tepatnya di Dusun Sei Udang, Desa Sei Siarti, Kecamatan Panaitengah, Kabupaten Labuhanbatu, akhir-akhir ini diliputi perasaan resah.
Keresahan warga tersebut terjadi, menyusul tercemarnya alur DAS (Daerah Aliran Sungai) Barumun tersebut, yang diduga berasal dari buangan limbah pabrik pengolahan minyak kelapa sawit, milik perusahaan perkebunan PT CSR (Cisadane Sawit Raya) ditempat itu.
Limbah PKS PT Cisadane Sawit Raya, yang menggenangi pemukiman warga di Dusun Sei Udang, Desa Sei Siarti, Kecamatan Panaitengah, Labuhanbatu. (Foto Jurnal Labuhanbatu / istimewa)
Air buangan limbah pabnk pengolahan minyak kelapa sawit milik PT CSR tersebut, mengalir disepanjang parit yang berada di sekitar pemukiman warga.
Mantan Kepala Dusun Sei Udang, Robinson Samosir, didampingi warga lainnya, bermarga Hutasoit, usai menggelar musyawarah wali murid di pelataran parkir Sekolah Dasar Swasta ‘Perjuangan’ didaerah trsebut, Rabu siang (27/4), mengungkapkan hal ini kepada wartawan.
“Warga dusun ini jelas resah. Akibat buangan limbah PKS PT.Cisadane,” tegas Robinson Samosir. Sebab lanjutnya, air limbah yang dibuang perusahaan raksasa itu, mengalir melewati parit yang berdekatan dengan perumahan warga. Sehingga aroma tak sedap selalu muncul di hidung warga.
Selain itu katanya, warga pun kini enggan mengkonsumsi air minum dari sumur. Karena khawatir air sumur tersebut, sudah bercampur dengan air limbah. Air sumur kini warnanya sudah berobah dari biasanya. Dan juga mengeluarkan bau tidak sedap.
Bukan hanya itu, timpal Hutasoit, hasil tangkapan ikan nelayan pun sudah semakin berkurang. Ikan yang ada di sepanjang parit buangan limbah PT CSR itu, sering terlihat bermatian.
Yang lebih parahnya lagi, selain lahan pemukiman warga yang terkena genangan buangan limbah. Lahan pertanian masyarakat pun sering terkena limbah.
“Kami berharap. Kiranya Bupati Labuhanbatu, dr H Tigor Panusunan Siregar bersama wakilnya Suhari Pane SIP, bisa memperhatikan ini. Serta menyahuti keluhan kami ini”, ucap Robinson Samosir mengakhiri keterangannya.(LB.05)
Sumber: http://jurnal-labuhanbatu.com/?p=1967#more-1967
10:19:00 am
Unknown
Senin, 09 May 2011 00:00 Ditulis oleh Walhi
Jakarta - Newmont Nusa Tenggara membuang limbah tambang sebanyak 120 ribu ton per hari ke Teluk Senunu, laut selatan pulau Sumbawa sejak tahun 1999. Tindakan ini adalah sebuah tindakan kejahatan terhadap lingkungan. WALHI mendukung langkah Bupati Sumbawa Barat dengan tidak memperpanjang izin pembuangan limbah tambang Newmont. Surat Keputusan Bupati Sumbawa Barat No 660/144/BLH-KSB/IV/2011 tertanggal 27 April 2011, yang menjadi alasan legalitas penghentian pembuangan limbah tambang ke laut.
WALHI telah mengirimkan surat ke Bupati Sumbawa Barat, Zulkifli Muhadli, pada tanggal 5 Mei 2011. Dalam surat tersebut WALHImenyampaikan dukungan terhadap sikap Bupati menolak memperpanjang izin pembuangan limbah tambang PT.Newmont Nusa Tenggara ke Teluk Senunu. Sekaligus WALHI menyampaikan informasi, berdasarkan analisis foto satelit telah terjadi penurunan kualitas laut sekitar Teluk Senunu, tampak dari penurunan klorofil di laut bagian selatan-barat P.Sumbawa. Penurunan klorofil di laut tersebut sekitar 76% hingga 62,5 %. Yakni dari 0,5 - 0,8 mg/ menjadi 0,12 mg 0,3 mg/l. Gambar satelit yang dibandingkan adalah dari November 2006 dan Maret 2010.
Penurunan kualitas laut ini menunjukkan daya dukung dan daya tampung laut bagian selatan-barat Pulau Sumbawa telah terlampaui, atau tidak mencukupi lagi. Nelayan setempat telah mengeluhkan penurunan tangkapan ikan. Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukug perikehidupan manusia dan mahluk hidup lain dan keseimbangan antara keduanya.
Berdasarkan UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) No 32 Tahun 2009, Pasal 17 ayat 2 huruf b, “Segala usaha dan/atau kegiatan yang telah melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup tidak diperbolehkan lagi”. Dengan demikian, bila Newmont Nusa Tenggara tetap melakukan pembuangan tailingnya ke Teluk Senunu, tindakan tersebut adalah tindakan pidana lingkungan hidup. Terlebih dengan adanya surat Bupati 660/144/BLH-KSB/IV/2011 yang tidak memerbolehkan pembuangan limbah ke laut.
Atas kejahatan terhadap lingkungan, Newmont dapat dikenakan saksi sesuai dengan Pasal 104 UU Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan hidup, bahwa “setiap orang yang melakukan dumping limbah dan/atau bahan ke media lingkungan hidup tanpa izin dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
Karena tempat pembuangan limbah tersebut berada di Kabupaten Sumbawa Barat, maka izin pembuangan limbah ini merupakan wewenang dari Bupati. WALHI mengharapkan Bupati tetap berpegang teguh pada kebijakan yang telah dikeluarannya dan berlawan terhadap segala bentuk intervensi dalam menegakkan kepastikan hukum bagi lingkungan. Karena lingkungan laut dan darat Indonesia saat ini telah banyak rusak dikalahkan oleh kepastian hukum bagi investasi. (selesai)
Wednesday, 11 May 2011
7:00:00 pm
Unknown
Perempuan memiliki kedekatan emosional dengan alam, terutama perempuan yang tinggal di pedesaan. Para perempuan pedesaan sangat menggantungkan hidup mereka pada lingkungan atau alam sekitar untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, dewasa ini banyak terjadi ekploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam di Indonesia. Hal ini berdampak pada semakin hilangnya akses dan kontrol perempuan terhadap sumber daya alam.
Buku ini memberi gambaran bagaimana perempuan dalam mengelola sumber daya alam di sekitarnya, dan juga memaparkan ketidakadilan gender yang dialami perempuan di pedesaan saat perusahaan dan industri ekstraktif, seperti perkebunan besar kelapa sawit, dan pertambangan masuk ke wilayah mereka.
Data Buku :
ISBN : 978-979-8071-76-8
Penerbit:
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia - 2011
Jl. Tegal Parang Utara No. 14
Jakarta 12790
Telp. : (021) 791933, 7941672
E-mail : informasi[at]walhi.or.id
Website : www.walhi.or.id
Untuk mendapatkan buku ini baik versi cetak maupun e-book, silahkan menghubungi email jumi[at]walhi.or.id (Sdr. Jumi Rahayu)
6:56:00 pm
Unknown
BANDA ACEH,Krisis kehutanan yang terjadi Aceh, salah satunya karena sangat kurangnya pelibatan masyarakat pemangku adat dalam langkah pelestarian. Pemerintah dinilai lebih mengutamakan kepentingan pemilik modal yang cenderung eksploitatif dalam mengelola hutan Aceh.
Demikian pemikiran yang berkembang dalam acara seminar lingkungan yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Canniva Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, di Banda Aceh, Selasa (10/5).
Dalam seminar itu hadir sebagai pembicara staf pengajar Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Unsyiah, Monalisa, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Aceh, TM Zulfikar, Ketua Forum Mukim Aceh Besar, Nasrudin, dan Wakil Gubernur Aceh M Nazar yang diwakili Kepala Biro Perekonomian Provinsi Aceh, T Sofyan.
Monalisa mengungkapkan, hampir pada semua tahapan pelestarian hutan yakni mulai dari penyuluhan dan langkah pelestarian, masyarakat adat tak dilibatkan. Kalaupun ada, tak ada pemuka adat yang jadi tokoh utama. Padahal, dalam struktur sosio kultural masyarakat Aceh, pemuka adat mempunyai peran penting dalam berinteraksi dengan alam.
Kondisi tersebut, lanjut Monalisa, terjadi karena minimnya komunikasi pemuka adat dengan pemerintah, serta beberapa mitra lainnya dalam pelestarian hutan. Hambatan lainnya adalah soal kelembagaan sosial.
"Ada sosialisasi, namun disampaikan dalam bahasa yang tak dimengerti pemuka adat. Ada juga keengganan dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah, karena sering lamban untuk menindaklanjuti. Sejumlah isu lingkungan seperti moratorium logging, pemanfaatan karbon (REDD), dan hutan masyarakat adalah isu lingkungan yang tak pernah dimengerti," kata Monalisa.
Menurut Zulfikar, kebijakan pemerintah dalam soal kehutanan selama ini tak berdampak pada terciptanya kelestarian, karena di sisi lain praktik eksploitasi kawasan hutan untuk pertambangan, perkebunan, dan penebangan cenderung dibiarkan. Bahkan, pemerintah pusat maupun daerah masih saja mengeluarkan izin pertambangan di Aceh.
"Pemerintah kita sepertinya cukup puas mendapat keuntungan yang tak lebih dari 10 persen, bahkan lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang berdalih investasi. Pendapatan dari sektor pertambangan hanya 3-4 persen, jauh lebih kecil dibandingkan dengan kerusakan yang dialami hutan kita," ujar Zulfikar.
"Masyarakat sekitar hutan hanya jadi penonton. Hutan sekitar mereka dijarah namun mereka tetap miskin," tambahnya.
Minimnya pelibatan itu, membuat masyarakat pun enggan menjaga hutan dari perambahan besar-besaran. Konflik lahan kehutanan pun menjadi sangat sering terjadi di wilayah Aceh, khususnya antara masyarakat pemangku adat dengan perusahaan perkebunan ataupun pertambangan.
Nasrudin mengungkapkan, sebagai bagian dari masyarakat adat, sampai saat ini nyaris tak ada pelibatan kepala mukim dalam pelestarian hutan. Istilah-istilah semacam REDD, moratorium, pun tak pernah dijelaskan tuntas dan apa manfaat yang didapat.
Kami sebagai pemangku adat terus terang tak mengerti dengan langkah pemerintah mengurusi hutan. Pemerintah hanya sibuk menarik investor. Tapi, yang masuk ternyata investor pertambangan yang bisanya mengeksploitasi hutan," kata Nasrudin.
Sementara M Nazar mengatakan, sebenarnya dalam upaya pelestarian kehutanan di Aceh, pelibatan peran masyarakat adat sudah diupayakan. Ini seperti diatur dalam Qanun 10 Tahun 2008, yang mengatur fungsi dan jabatan serta struktur masyarakat adat dalam mengurusi sumber daya alam.
"Misalnya, Panglima Laot bertugas memimpin persekutuan adat di laut. Panglima Uteun menjalankan fungsi menegakkan norma adapt yang berkaitan dengan etika memasuki dan mengelola hutan adap," ujarnya.
12:02:00 am
Unknown
Ternate (16/02/11) Pada Kamis, 3 Febuari 2011 malam, telah terjadi kebocoran pipa tailing (limbah) PT. NHM, yang baru ditemukan pada hari Jumat pagi pukul 09.00 wit. Diperkirakan akibat kejadian ini PT. NHM telah membuang material limbah sebanyak 361 ton, melalui Kali Sambiki, dan bermuara ke Kali Kobok, Kab. Halmahera Utara. Masyarakat desa Balisosang yang mengecek ke Kali Kobok membenarkan kebocoran pipa taliling PT. NHM. Hal ini terlihat ketika ikan dan kepiting dalam jumlah banyak mati dan terapung di Kali Kobok akibat limbah PT. NHM.
Berdasarkan catatan Walhi Maluku Utara, Kali Kobok telah tercemar sejak tahun 2000 akibat penambangan. Sebelumnya air kali ini dikosumsi masyarakat untuk minum, mandi. Namun sudah dua tahun terakhir air kali ini tidak lagi. Warga merasa Kali Kobok mengeluarkan bau sangat menyengatkan seperti bau aki, dan berminyak.
Perubahan fisik dan kimia pada sungai kobok ini diakibatkan oleh limbah bahan berbahaya dan beracun milik PT. NHM. Sebelumnya pipa NHM juga bocor pada Maret 2010 dan menghanyutkan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) ke sungai. Akibat tercemarnya Kali Kobok dari limbah B3 PT. NHM, produkivitas petani disarming kali tersebut menurun, dan selalu dihantui terpapar bahan berbahaya dan beracun. Sehingga banyak anak-anak mereka yang putus sekolah karena berkurangnya produktivitas berkebun ini.
Atas kelalain ini, maka berdasarkan undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolahan Lingkungan Hidup, maka PT. NHM telah malakukan tindak pidana berdasarkan pasal 98 ayat (1) yang melarang pembuangan limbah melebihi baku mutu. Selain itu pula asas keterbukaan informasi tidak sama sekali dilaksanakan oleh PT. NHM padahal jika terjadinya kebocoran pipa tailing maka PT. NHM sudah serausnya menginformasikan ini kepada publik sesuai dengan pasal 35. PP Nomor 74 tahun 2001.
Walhi Maluku Utara mendesak sesegara mungkin ada penjelasan ke publik akibat kebocoran pipa tailing, dan Balai Lingkungan Hidup propinsi Maluku Utara melakukan penyelidikan yang transparan dan melibatkan warga dan pemantau indendependen.
Tuesday, 10 May 2011
11:57:00 pm
Unknown
AKARTA - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengharapkan pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-8 di Jakarta mendorng ASEAN menciptakan keadilan ekologis.
"Walhi menyambut hangat KTT ASEAN ke-18 karena dinilai kerjasama ASEAN telah memberi pengaruh bagi berbagai kemajuan di negara-negara anggotanya," kata Wakil Ketua Departemen Advokasi Walhi Eksekutif Nasional Oslan Purba melalui rilis persnya di Jakarta, Jumat (06/05)..
Dia mengharapkan para pemimpin ASEAN mampu melahirkan resolusi perbaikan kualitas lingkungan hidup di kawasan.
Walhi juga mendesak ASEAN mengedepankan aspek-aspek yang memperkuat posisi masyarakat, memberikan keadilan akses dan kontrol rakyat terhadap sumberdaya serta memastikan investasi di berbagai sektor di kawasan ASEAN tidak membuat hancurnya ekologi.
Lebih lanjut dia mengatakan, sebagai Ketua ASEAN 2011, Indonesia bertanggung jawab menjadikan ASEAN sebagai kekuatan pendorng yang jujur dan memusatkan kerjasama kepada kepentingan warga negara ASEAN.
Indonesia harus menunjukkan, ASEAN mampu melakukan kerja sama yang bukan saja berguna bagi rakyat ASEAN semata, melainkan juga bagi semua warga negara Asia-Pasifik.
Pemerintah Indonesia juga diminta mengkonsolidasikan upaya-upaya menghentikan praktik pembalakan liar yang melibatkan negara-negara ASEAN.
Walhi juga menilai ekspor pasir ke Singapura sangat merugikan Indonesia, beberapa pulau terluar menghilang akibat pasirnya dijual ke Singapura, semenyatab banyak wilayah rusak ekosistemnya. [ms]
11:57:00 pm
Unknown
AKARTA - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengharapkan pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-8 di Jakarta mendorng ASEAN menciptakan keadilan ekologis.
"Walhi menyambut hangat KTT ASEAN ke-18 karena dinilai kerjasama ASEAN telah memberi pengaruh bagi berbagai kemajuan di negara-negara anggotanya," kata Wakil Ketua Departemen Advokasi Walhi Eksekutif Nasional Oslan Purba melalui rilis persnya di Jakarta, Jumat (06/05)..
Dia mengharapkan para pemimpin ASEAN mampu melahirkan resolusi perbaikan kualitas lingkungan hidup di kawasan.
Walhi juga mendesak ASEAN mengedepankan aspek-aspek yang memperkuat posisi masyarakat, memberikan keadilan akses dan kontrol rakyat terhadap sumberdaya serta memastikan investasi di berbagai sektor di kawasan ASEAN tidak membuat hancurnya ekologi.
Lebih lanjut dia mengatakan, sebagai Ketua ASEAN 2011, Indonesia bertanggung jawab menjadikan ASEAN sebagai kekuatan pendorng yang jujur dan memusatkan kerjasama kepada kepentingan warga negara ASEAN.
Indonesia harus menunjukkan, ASEAN mampu melakukan kerja sama yang bukan saja berguna bagi rakyat ASEAN semata, melainkan juga bagi semua warga negara Asia-Pasifik.
Pemerintah Indonesia juga diminta mengkonsolidasikan upaya-upaya menghentikan praktik pembalakan liar yang melibatkan negara-negara ASEAN.
Walhi juga menilai ekspor pasir ke Singapura sangat merugikan Indonesia, beberapa pulau terluar menghilang akibat pasirnya dijual ke Singapura, semenyatab banyak wilayah rusak ekosistemnya. [ms]
11:50:00 pm
Unknown
MUARA TEBO, - Hutan penelitian Southeast Asia Regional Centre for Tropical Biology terus dibakar dan dirambah secara liar. Aktivitas itu dilakukan setiap hari, tapi oleh pelaku dinilai sebagai tindakan legal.
Pantauan Kompas di hutan Seameo Biotrop, Desa Pasir Mayang, Kecamatan VII Koto, Kabupaten Tebo, Jambi, seluas 2.700 hektar, pada 6-7 Mei 2011, pembakaran berlangsung di sejumlah titik dengan luas lebih dari 20 hektar.
Api membubung tinggi dan cepat meluas karena suhu normal pada siang itu—dalam radius 700 meter dari lokasi—mencapai 40 derajat celsius dan angin bertiup kencang.
Pembakaran lahan juga marak terjadi di hutan sekitarnya, seperti hutan produksi eks hak pemanfaatan hutan PT Industries et Forest Asiatiques, hutan tanaman industri PT Lestari Asri Jaya, dan sebagian areal milik masyarakat.
Peneliti lokal di Biotrop, Miswandi, mengatakan, lahan yang dibakar telah diklaim pelaku dengan membayar sejumlah uang kepada oknum desa. Lahan dibeli dari oknum perangkat desa sekitar Rp 2 juta per hektar. Setelah dikapling, lahan dibakar untuk ditanami sawit atau karet.
Kepala Seksi Perlindungan Hutan Dinas Kehutanan Tebo Sumarjo membenarkan maraknya aktivitas pembakaran dan perambahan hutan di Tebo. "Namun, sulit menindak pelaku karena aktivitas itu berlangsung di banyak lokasi," ujarnya.
Biotrop pada 1990-an merupakan hutan hujan dataran rendah dengan koleksi vegetasi serta satwa sangat lengkap. Hutan primer ini dilengkapi laboratorium penelitian alam untuk analisis vegetasi dan laboratorium kultur jaringan. Pada masa itu, banyak peneliti asing memanfaatkan hutan Biotrop untuk penelitian.
Biotrop rusak sejak penjarahan pada 2003. Tidak sedikit hutan yang gundul karena dicuri kayunya. Laboratorium penelitian yang dibangun sejak 1984 itu kini hanya menyisakan tonggak-tonggak penyangga.
Seameo Biotrop seluas 2.700 hektar merupakan hutan dan laboratorium penelitian yang dibangun PT Industries et Forest Asiatiques selaku pemilik HPH. Penelitian untuk menumbuhkan model dinamika pertumbuhan hutan hujan dataran rendah mengkaji aspek iklim mikro hutan sebagai parameter lingkungan yang memengaruhi kondisi pertumbuhan vegetasi dan hewan, serta mencermati perubahan jangka panjang berupa suksesi atau degradasi hutan. Kini penelitian sulit dilakukan karena hutan hampir habis.
Segera hentikan
Walhi Aceh mendesak skema pengurangan karbon dalam pengelolaan hutan di Aceh dihentikan. Skema ini hanya jadi lahan permainan guna mencari keuntungan pihak yang terlibat di dalamnya. Kasus transaksi saham oleh Carbon Conservation dengan East Asia Minerals Corporation dan hutan Aceh sebagai asetnya adalah salah satu bukti permainan dalam urusan karbon hutan.
"Walhi sejak awal sudah menduga bakal seperti ini. Apa pun bentuk skema pengurangan karbon hutan selalu berujung pada permainan bisnis yang menguntungkan pihak tertentu. Jadi, kami meminta semua skema karbon dihentikan," ujar Direktur Walhi Aceh Zulfikar. (ITA/HAN)
RSS Feed
Twitter
