Sunday, 24 July 2011

Maniur Eli Hamonangan Manurung

ABSTRACT

Coastal zone of Dumai, Riau Province has many plants/industries, a port, and its activities. These activities have given contribution of pollutants in coastal water. Besides, coastal society also rely on this natural resources to fulfill their livelihood. Coastal society is a stakeholder to observe coastal water quality at their every activity around the coastal zone. The purpose of this research is to determine negative perceptions of coastal society on coastal water quality by using Likert Scale Assessment Analysis Methods. Data collecting was conducted by direct interview and FGD. The result showed that coastal society has a negative perception on the water quality (34%). It indicated that coastal water quality of Dumai is polluted, so that coastal society can not exploits the coastal and marine water resources especially for fishermen because it’s the major source of their livelihood.


Keywords: coastal zone of Dumai, coastal society, perception, coastal water quality

Download

Monday, 11 July 2011


Visit at http://www.lsu.edu/cei/

Coastal Ecology Institute

1209 Energy Coast and Environment Building
School of the Coast and Environment
Louisiana State University

Baton Rouge, Louisiana, 70803

Director: Dr. Dubravko Justic
Assistant Director: Dr. Charles Sasser
Administrative Specialist: Terry Wimberly
Tel: 225 - 578 - 6515
Fax: 225 - 578 - 6326
Email: wimberly@lsu.edu

Saturday, 9 July 2011

Inggried | Selasa, 5 Juli 2011 | 08:42 WIB

KOMPAS.com - Punya banyak koleksi buku? Masih ingatkah Anda, buku apa saja yang pernah dibaca dan apa inspirasi yang Anda dapatkan dari buku itu? Jika Anda menjawabnya, "Aduh, sudah lupa", atau bahkan sama sekali tak ada kesan dari buku yang Anda baca, bisa jadi, cara membaca yang diterapkan selama ini tidak efektif. Penulis buku "101,5 Inspirasi Kecerdasan Emosional Anak Muda" yang juga pakar EQ, Anthony Dio Martin membagi 3 cara yang bisa diterapkan untuk membaca secara efektif dan mendapatkan manfaat dari apa yang Anda baca. Apa saja triknya?

Pertama, terapkanlah teknik membaca kontemplatif. "Ketika membaca buku, jangan dari awal sampai akhir lewat begitu saja, kemudian lupa apa yang dibacanya," kata Anthony, di arena Pesta Buku Jakarta 2011, di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (3/7/2011).

Bagaimana cara membaca kontemplatif? Anthony menjelaskan, saat membaca buku, peganglah pensil atau pulpen. Beri catatan pada bagian yang menurut Anda menarik. Catatan itu bisa berupa komentar, ketidaksamaan pendapat atau apa pun.

"Itu kan buku Anda sendiri, tidak masalah jadi penuh coretan. Caranya, pegang buku, pegang pensil dan bolpen, corat coret. Biar saja. Kasih komentar di bagian yang dibaca. Coretan ini akan melatih, mencerdaskan pikiran Anda. Tandai, kasih komentar. Lingkari, kasih tanda seru atau memberi pendapat tentang apa yang Anda baca. Misal, anda tidak suka, tidak sependapat,dan sebagainya. Jangan biarkan buku tetap rapi," paparnya.

Trik kedua, buatlah mind mapping. Caranya, membuat garis besar isi buku setelah selesai membacanya.

Dan ketiga, berikan catatan pada notes kecil untuk mencatat ide yang muncul dari buku yang Anda baca. "Pengetahuan tidak ada artinya kalau tidak memunculkan ide. Misalnya, bikin catatan-catatan dari baca buku ini (yang dibaca), apa yang Anda dapatkan. Sebuah buku akan berkesan kalau berhasil membuat kita terinspirasi dan membuat kita punya ide untuk melakukan sesuatu," kata Anthony.


Source: http://edukasi.kompas.com/read/2011/07/05/08425625/3.Trik.Membaca.Buku.Lebih.Efektif

Friday, 8 July 2011


Tri Wahono | Senin, 4 Juli 2011 | 15:43 WIB

KOMPAS.com - Total emisi karbon dioksida yang dihasilkan manusia di seluruh dunia jauh lebih besar daripada emisi alami yang dikeluarkan alam misalnya dari aktivitas gunung berapi. Hasil riset menunjukkan, emisi karbon dioksida manusia 135 kali lebih banyak dibandingkan emisi seluruh gunung api dalam rentang waktu yang sama. Jumlah karbon dioksida yang dikeluarkan manusia dalam tiga hari setara dengan jumlah karbon dioksida yang dihasilkan gunung-gunung api.

"Banyak yang bilang gunung api mengeluarkan CO2 lebih banyak daripada manusia. Tapi, mereka tidak pernah mengeluarkan angka pastinya," kata Terrence Gerlach, ahli gunung api yang sudah pensiun yang pernah bekerja untuk Cascade Volcano Observatory, bagian dari US Geological Survey di Vancouver.

Para peneliti kemudian memperkirakan emisi karbon dioksida gunung-gunung api dengan mengukur jumlah karbon dioksida yang dilepaskan saat erupsi. Metode yang digunakan ada beberapa. Di antaranya, memindai awan yang dihasilkan letusan gunung api, serta mengukur konsentrasi isotop di sekitar gunung api. Gerlach mengatakan bahwa letusan gunung api adalah kejadian luar biasa. Menurutnya, letusannya tampak hebat di televisi, tapi kejadian itu hanya sesaat.

"Bandingkan dengan sumber lain--asap pabrik, kendaraan, dan lainnya--yang mengeluarkan CO2 24 jam per hari," katanya. Pembukaan hutan saja mengakibatkan emisi sekitar 3,5 miliar ton per tahun. Mobil dan truk besar menghasilkan 2 miliar ton. Produksi semen menghasilkan 1,4 miliar ton karbon dioksida. Demikian Gerlach memberikan gambaran. "Hal itu saja sudah melebihi emisi yang dikeluarkan gunung api," katanya.

Para peneliti memperkirakan seluruh gunung api mengeluarkan 0,13 hingga 0,44 miliar ton per tahun. Sementara manusia mengeluarkan emisi 35 miliar ton pada tahun 2010. (National Geographic Indonesia/Alex Pangestu)

Source: http://sains.kompas.com/read/2011/07/04/15435519/Manusia.Lebih.Kotor.ketimbang.Alam

K1-11 | Glori K. Wadrianto | Minggu, 3 Juli 2011 | 13:37 WIB

Pongo Abelii alias Orangutan Sumatera


DENPASAR, KOMPAS.com — Tahukah Anda bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki jenis primata paling bervariasi di dunia? Dari 200 jenis primata yang tercatat di muka Bumi, di Indonesia terdapat 40 jenis atau sekitar 25 persen.

Ironinya, dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen terancam punah akibat banyak habitat primata yang rusak dan penangkapan ilegal untuk diperdagangkan. ProFauna Indonesia mencatat setiap tahunnya ribuan kera hasil tangkapan alam diperdagangkan di Indonesia untuk dikonsumsi atau dijadikan satwa peliharaan.

"Sampai saat ini masih ada pengiriman. Kalau dipelihara sepertinya hanya sedikit, lebih banyak dikonsumsi, otak dan dagingnya," kata Ketua Pro Rosek Nursahid di sela-sela kampanye penyelamatan primata di Renon, Denpasar, Minggu (3/7/2011).

Tingginya angka konsumsi primata di Indonesia terjadi karena sebagian masyarakat masih percaya mitos bahwa kera dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, salah satunya asma, meski sampai saat ini tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Akibat eksploitasi yang membabi buta ini, sedikitnya 4 primata asal Indonesia benar-benar akan punah jika tidak segera diselamatkan. Mereka adalah orangutan sumatera (Pongo abelii), kukang jawa (Nyeticebus javanicus), tarsius siau (Tarsius tumpara), dan simakubo (Simias cocolor).

Menyelamatkan mereka tak cukup dengan mengandalkan kepedulian para LSM pecinta satwa saja, tetapi kesadaran dari seluruh masyarakat dan pemerintah untuk saling mengingatkan pentingnya menjaga habitat bangsa kera dan monyet yang merupakan bagian dari kekayaan alam Indonesia ini.


Source: http://sains.kompas.com/read/2011/07/03/13373495/4.Spesies.Primata.Indonesia.Nyaris.Punah



Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Jumat, 8 Juli 2011 | 14:40 WI

KOMPAS.com - Spesies beruang kutub yang ada sekarang diperkirakan berasal dari satu spesies beruang coklat yang hidup 20.000 - 50.000 di wilayah yang kini dikenal dengan Irlandia. Hal itu dikemukakan dalam publikasi ilmuwan di jurnal Current Biology baru-baru ini.

Para ilmuwan mendapatkan hasil tersebut setelah melakukan analisis DNA Mitokondria dari 242 beruang kutub dan beruang coklat yang masih hidup maupun yang telah memfosil. DNA miktokondria lain dengan DNA inti sel sebab hanya diturunkan dari induk (ibu) ke anakan.

"Kami menemukan bahwa garis ibu (DNA Mitokondria) dari beruang kutub memiliki kesamaan dengan moyang yang relatif baru yang pernah hidup di Pantai Atlantik wilayah Irlandia," kata Daniel Bradley, profesor dari Trinity College, Dublin, yang terlibat dalam penelitian ini.

Beruang kutub berbeda dengan beruang coklat. Beruang kutub memiliki tampakan luar berwarna putih dan karnivora. Sementara, beruang coklat memiliki ukuran yang lebih kecil, hidup di lingkungan yang lebih hangat, berwarna coklat serta memakan tumbuhan dan hewan kecil.

Sebelum penemuan ini, dipercaya bahwa moyang beruang kutub adalah dari Alaska dan hidup sekitar 14.000 tahun yang lalu. Dengan penemuan ini, bukan saja lokasi moyang beruang kutub saja yang berubah, tetapi juga waktu hidup yang mundur ke belakang dengan rentang 6000 - 36.000 tahun.

Hasil penemuan ini menarik sebab dalam beberawa waktu terakhir, hibrida beruang kutub dan beruang coklat ditemukan di wilayah Artik. Para Biolog mengatakan bahwa hibridisasi ini krusial saat es di laut Artik terus mengalami pelelehan.

Beth Shapiro dari Pennsylvania State University yang memimpin studi ini mengatakan, "Beruang kutub dan beruang coklat yang saat ini hibrid di alam liar sebenarnya telah melakukannya dalam kurun waktu 100 ribu tahun terakhir."

Lebih lanjut, Shapiro mengatakan bahwa ilmuwan harus mempertimbangkan kembali upaya konservasi sehingga tidak hanya fokus pada beruang kutub tetapi juga hibridanya. Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), saat ini hanya ada 20 ribu hingga 25 ribu beruang kutub di alam liar.

Source: http://sains.kompas.com/read/2011/07/08/14401347/Moyang.Beruang.Kutub.dari.Irlandia