This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Monday, 1 September 2014
12:18:00 pm
Unknown
Ikan yang siap diantar diatas becak motor di Pasar Peunayong, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Kamis (14/2/2013). Sumber daya laut Indonesia yang melimpah berpotensi menjadi negara eksportir ikan laut kelas dunia. Dibutuhkan komitmen yang kuat dari pemerintah dan pemangku kepentingan lain untuk mengembangkan sektor kelautan dan perikanan secara berkelanjutan.
KOMPAS.com - Tujuh puluh persen wilayah Indonesia adalah lautan. Nenek Moyang Kita seorang pelaut. Sumber daya alam hayati laut kita kaya. Begitulah sering banyak orang mengucapkan.
Namun, sesering banyak orang mengucapkannya, sesering itu pula akhirnya semua sadar bahwa kekayaan yang dimiliki lautan belum mampu menyejahterakan. Mimpi sejahtera lewat laut belum terwujud. Buktinya satu saja, nelayan Indonesia masih dianggap kaum miskin.
Mengapa Indonesia belum juga mampu mewujudkan kesejahteraan lewat laut? Pertemuan kelompok ahli bertema "Peran Iptek dalam Pembangunan Maritim" yang diadakan pada Jumat (29/8/2014) di Universitas Surya, Tangerang, mengungkapnya.
Rizal Damanik, Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia dan Direktur Indonesia for Global Justice mengungkapkan, sebab pertamanya adalah adanya "ketimpangan agraria kelautan."
Dalam 5 tahun terakhir, lebih dari 20 persen armada kapal nelayan menumpuk di satu tempat. Sementara itu, kapal-kapal berkapasitas lebih dari 20 gross ton juga berebut dengan nelayan di tempat yang sama.
Diantara kapal-kapal yang berebut dengan nelayan tradisional, banyak pula milik asing. Penjagaan laut kurang. "Laut Indonesia ibarat rumah yang tidak berpagar. Siapa pun bisa masuk," kata Rizal.
Selain ketimpangan agraria kelautan, Rizal juga menyebut adanya ketimpangan fasilitas di antara wilayah Indonesia barat dan timur. "70 persen pelabuhan ada di Indonesia bagian barat. Sementara, di Indonesia timur kurang dari 30 persen," ungkapnya.
Hal itu menimbulkan masalah karena wilayah yang masih menyimpan potensi ikan cukup besar adalah Indonesia timur. Banyak wilayah di Indonesia bagian barat kini sudah tercemar dan mengalami overfishing.
Kesejahteraan lewat maritim, terutama perikanan, juga sulit dicapai karena adanya ketimpangan rantai pengelolaan sumber daya ikan. Masih banyak yang berkutat di perikanan tangkap. Baru sedikit yang menekuni pengolahan.
Banyaknya penangkap ikan membuat kompetisi tinggi. Dengan demikian, wajar bila nelayan punya penghasilan sedikit dan tak sejahtera. Konsekuensi lainnya, sumber daya alam dijual tanpa nilai tambah.
Di luar sektor perikanan, Son Diamar, mantan Staf Ahli Menteri BAPPENAS Bidang Maritim dan Tata Ruang, mengatakan bahwa Indonesia belum bisa menangkap peluang ekonomi pelayaran dan wisata bahari.
Menurut Son, sebelumnya banyak aktivitas pelayaran Indonesia yang masih dilayani kapal asing. Indonesia harus membayar Rp 100 triliun. Saat ini, pelayanan kapal Indonesia sudah meningkat. Tapi, Son mengatakan, jika mau mandiri lewat maritim, 40 persen ekspor harus dilayani dengan kapal Indonesia.
Son juga menyebut belum maksimalnya pengembangan wisata bahari. "Padahal, kalau mau mengembangkan 8 destinasi wisata bahari saja dengan baik, kita sudah untung," ungkapnya.
Rizal mengatakan, perlu perombakan dalam pengelolaan kelautan. Pertama, pengembangan maritim harus melibatkan rakyat Indonesia. Partisipasi harus ada.
Pengembangan tidak bisa diserahkan kepada satu pihak untuk kemudian pemerintah punya penerimaan lewat pajak yang bisa membuat masyarakat sejahtera. Rizal mengatakan, teori itu sudah gagal.
"Contoh di Kalimantan. Batubara dikelola pihak lain. Diharapkan ada kesejahteraan. Ternyata tidak. Kalimantan yang kaya batubara malah justru identik dengan mati listrik," paparnya.
Selain itu, dibutuhkan pula teknologi untuk membantu para nelayan mengetahui wilayah dengan potensi ikan tinggi.
Son menyebut perlunya perubahan pengelolaan sumber daya alam, adanya badan usaha milik daerah, dan anggaran APBN yang digunakan untuk pengembangan infrastruktur kemaritiman.
Penulis : Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo
Source: http://sains.kompas.com/read/2014/08/30/18085431/Mimpi.Indonesia.Jaya.dengan.Laut.Mengapa.Belum.Juga.Jadi.Nyata.
Saturday, 30 August 2014
6:32:00 pm
Unknown
Prosedur Pengaduan Permasalahan NIK :
1. Kirimkan email pengaduan ke panselnas@menpan.go.id
2. Subject Penulisan Email Pengaduan [Pengaduan Permasalahan NIK].
3. Email diisi biodata lengkap sesuai KTP.
4. Lampirkan bukti KTP atau E-KTP dan ijazah SMA / akta kelahiran didalam email.
5. Email dengan data tidak lengkap tidak akan diproses.
Saturday, 25 January 2014
8:50:00 pm
Unknown
Senin, 1 Februari 2010 | 13:10 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com
Pendidikan lingkungan hidup dari jenjang Taman Kanak-kanak hingga perguruan tinggi, termasuk juga pendidikan di luar sekolah, akan semakin diperkuat. Pendidikan lingkungan hidup tidak perlu menjadi mata pelajaran sendiri, tetapi diintegrasikan dengan kegiatan sehari-hari di sekolah dan mata pelajaran yang sudah ada.
Demikian kesepakatan yang ditandatangani dalam nota kesepahaman pendidikan lingkungan hidup dan pembentukan kelompok kerja pendidikan lingkungan hidup antara Menteri Lingkungan Hidup Gusti M Hatta dan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, di Jakarta, Senin (1/2/2010).
Kesepakatan tersebut untuk memperkuat kembali pendidikan lingkungan hidup yang sudah dilaksanakan sejak Juni 2005. Gusti menjelaskan, dalam UU No.32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup disebutkan bahwa salah satu hak masyarakat adalah mendapatkan pendidikan lingkungan hidup.
"Persoalan pendidikan lingkungan hidup sangat penting. Apalagi terkait isu perubahan iklim. Kita perlu mengajak semua orang, termasuk anak-anak sekolah untuk mau memahami dan mengubah perilaku untuk memiliki kesadaran memelihara lingkungan hidup," jelas Gusti.
Sementara itu, Mendiknas mengatakan pendidikan lingkungan hidup harus bisa mengajarkan hal-hal praktis untuk kehidupan sehari-hari. "Yang utama dalam pendidikan lingkungan hidup adalah memasukkan nilai-nilai kesadaran lingkungan hidup pada tiap siswa. Ya, lewat pelajaran, ya lewat membangun kebiasaan-kebiasaa prolingkungan," ujar Nuh.
Nuh menambahkan, dalam bidang pendidikan akan diperkuat peran pusat kajian atau studi lingkungan hidup yang ada di kampus-kampus. "Mereka bukan hanya mengkaji persoalan lingkungan hidup, tapi juga mesti bisa menawarkan solusi dan hal-hal praktis yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki persoalan lingkungan hidup yang kita hadapi," ujar Nuh.
Selain itu, pemberian penghargaan untuk sekolah-sekolah yang peduli pada lingkungan hidup juga akan ditambah. Dengan banyaknya sekolah yang memiliki kesadaran lingkungan, perubahan perilaku untuk selalu sadar lingkungan bisa semakin luas lagi.
"Sekolah lewat proses belajar-mengajarnya potensial untuk menanamkan ideologi lingkungan hidup, yakni nilai-nilai untuk selalu mencintai lingkungan hidup," kata Nuh.
Source: http://edukasi.kompas.com/read/2010/02/01/13102857/Pendidikan.Lingkungan.Hidup.Perlu.Diperkuat
Friday, 24 January 2014
7:40:00 pm
Unknown
Bumi Kita Terus Memanas!
Kamis, 23 Januari 2014 | 07:03 WIB
KOMPAS.com — Studi yang dilakukan oleh Badan Atmosfer dan Kelautan Amerika Serikat (NOAA) dan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menegaskan bahwa Bumi semakin panas.
Kedua institusi tersebut menyebut tahun 2013 sebagai tahun terpanas sepanjang masa yang telah tercatat.
Laporan NOAA mencatat bahwa tahun 2013, bersama tahun 2003, adalah tahun terpanas keempat sepanjang masa.
Sementara, menggunakan metode yang sedikit berbeda, NASA menyatakan bahwa 2013 adalah tahun terpanas ketujuh setelah 1880, bersama dengan tahun 2009 dan 2006.
Subscribe to:
Comments (Atom)
RSS Feed
Twitter

