Thursday, 16 June 2011

Kamis, 16 Juni 2011 04:21 WIB | 572 Views

Lebak (ANTARA News) - Ribuan ikan mati di Sungai Cimadur Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten diduga karena sungai tersebut tercemar limbah pengolahan lumpur emas di wilayah itu.

"Kami merasa prihatin setelah melihat langsung ke lapangan ribuan ikan mati di Sungai Cimadur," kata anggota DPRD Lebak Erwin Komara Sukma di Rangkasbitung.

Ia menduga kematian ikan-ikan itu akibat aktivitas pengolahan lumpur emas di wilayah tersebut yang membuang limbah ke Sungai Cimadur yang digunakan warga untuk keperluan mandi, cuci dan kakus (MCK).

"Limbah lumpur emas itu sangat membahayakan karena mengandung merkuri dan sianida," ujarnya.

Namun demikian, perlu penelitian untuk membuktikan klaim itu dan anggota DPRD itu meminta Kantor Lingkungan Hidup (KLH) setempat untuk segera meneliti limbah itu.

"Saya berharap KLH bisa melakukan penelitian limbah itu," katanya.

Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Reformasi Jaringan Masyarakat (Rajam) Kabupaten Lebak Epi Yudhistira menyatakan, saat ini beberapa sungai di wilayah selatan sudah tercemari limbah akibat kurangnya pengawasan dari pemerintah daerah.

"Lemahnya pengawasan membuat para penambang emas membuang limbah ke sungai," katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak Babay Imroni menyatakan akan menerjunkan tim untuk mencek pencemaran limbah di daerah aliran sungai (DAS) Cimadur.

"Kami minta waktu sepekan untuk meneliti air limbah Sungai Cimadur," katanya.(*)
KR-MSR/Z002

Editor: Jafar M Sidik

Source: http://www.antaranews.com/berita/263252/tercemar-limbah-tambang-ribuan-ikan-mati
Minggu, 22 Mei 2011 10:48 WIB | 1923 Views

Dumai (ANTARA News)
- Sungai Dumai yang membelah daratan di Kota Dumai, Riau, hingga menjadi dua bagian yakni Barat dan Timur saat ini terus melebar tergerus terjangan abrasi hebat hingga 45 meter, kata Ketua Pecinta Alam Bahari Dumai, Darwis Mhd Saleh, Minggu.

Hebatnya terjangan abrasi di Sungai Dumai disebabkan banyaknya sejumlah kapal besar berdaya angkut ratusan bahkan ribuan ton yang "merayap" masuk melintasi alur sungai Dumai, kata Darwis.

"Kondisi ini sangat memprihatinkan. Bayangkan, sungai Dumai yang tadinya hanya selebar 10-15 meter, saat ini sudah mencapai 50-60 meter," kata dia.

Selain kapal besar, juga karena gerusan abrasi yang membuat minimnya tanaman bakau bersejarah yakni bakau belukap atau "riizophora mucronata" yang tadinya membudidaya di alur sungai Dumai.

"Kita sangat mengharapkan dukungan pemerintah setempat agar ada pembatasan terhadap kapal-kapal yang masuk dan beraktivitas di sungai Dumai. Karena jika secara terus-menerus kapal bermuatan diatas 100 ton melintasi sungai Dumai, maka tingkat gerusan akan semakin deras," jelasnya.

Kondisi tersebut, kata Darwis, sudah barang tentu akan semakin menenggelamkan bakau belukap yang memiliki sejarah atau legenda "Putri Tujuh".

Legenda Putri Tujuh menurut cerita masyarakat setempat, merupakan legenda atau sejarah terbentuknya Kota Dumai.

Darwis mengungkapkan, saat ini di kota dumai terdapat lebih sembilan pelabuhan yang masih aktif disinggahi oleh kapal-kapal besar pengangkut barang impor.

Menurut dia, sejumlah pelabuhan tersebut merupakan pelabuhan tikus yang tidak memiliki izin operasi alias ilegal.

"Tapi entah apa sebab, pemerintah setempat seperti Dinas Perhubungan dan polisi tidak tahu menahu, mereka terkesan `tutup mata," ungkapnya.

Penelusuran Koresponden ANTARA di Dumai menyebutkan, saat ini di sepanjang alur Sungai Dumai tercatat ada sekitar sembilan pelabuhan tikus yang biasanya dimanfaatkan oleh sejumlah importir untuk menyelundupkan berbagai barang ke Indonesia.

Salah satunya, yakni Pelabuhan Sungai Beruang di Kelurahan Pelintung, Kecamatan Medang Kampai. Kemudian Pelabuhan Sungai Kemeli dan Pelabuhan Arang di Kelurahan Mundam, yang juga di Kecamatan Medang Kampai.

Pelabuhan lainnya yakni Pelabuhan Tanjung Palas, Kelurahan Tanjung Palas dan Pokala di Kelurahan Buluh Kasap, Kecamatan Dumai Barat.

Sementara empat pelabuhan tikus di sungai Dumai lainnya meliputi Pelabuhan TPI Lama, Petak Panjang, Sungai Dumai, Pelabuhan Nasir serta Pelabuhan Ayan, berada di Kecamatan Dumai Timur.

Sejumlah pelabuhan tikus tersebut dikabarkan mulai berdiri sejak belasan tahun silam dan hingga sekarang masih aktif dimanfaatkan sebagai jalur transit barang selundupan seperti pakaian bekas, elektronik bahkan minuman keras.

Kapal-kapal yang kerap menyusup singgah di sejumlah pelabuhan tikus ini juga memiliki daya angkut diatas 200 ton. Aktifitas mereka terus marak tanpa ada tindakan tegas pemerintah dan aparat kepolisian setempat.
(KR-FZR/R010)

Editor: Aditia Maruli
COPYRIGHT © 2011

Source: http://www.antaranews.com/berita/259673/sungai-dumai-tergerus-abrasi-hingga-45-meter

Monday, 6 June 2011


BOGOR, KOMPAS.com - Beberapa spesies kelelawar di Indonesia sudah sulit ditemukan. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Ibnu Maryanto, peneliti kelelawar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di sela acara Konferensi Internasional Kelelawar Asia Tenggara 2 hari ini (6/6/11) di Bogor.

Jenis kelelawar yang sudah sulit ditemukan itu antara lain Otomops johnstonoi yang endemik wilayah Alor dan Neopterus trostii yang biasa ditemukan di wilayah Sulawesi. "Sudah sulit ditemukan spesies itu. Paling cuma 1 atau 2 individu yang ditemukan," ujar Ibnu.

Menurut Ibnu, salah satu tekanan bagi kelelawar adalah perusakan kawasan karst atau perbukitan kapur di mana terdapat gua tempat kelelawar hidup. Faktor lain adalah berkurangnya jenis tumbuhan yang biasa menjadi sumber makanan kelelawar pemakan buah. "Hilang satu tumbuhan, hilang juga kelelawar," cetus Ibnu.

Ibnu mengatakan, sulit ditemukannya spesies kelelawar tertentu sangat disayangkan. Pasalnya, kelelawar memainkan peranan penting dalam ekosistem. Misalnya perannya dalam penyerbukan bunga, pengendalian populasi serangga oleh kelelawar pemakan serangga dan suplai energi bagi biota yang hidup dalam gua.

"Banyak buah seperti rambutan, durian dan duku penyerbukan bunganya dibantu kelelawar. Kalau kelelawar hilang, buah pun bisa lenyap," urai Ibnu. Menurutnya, salah satu sebab terganggunya panen rambutan, duku, durian, dan mangga tahun lalu adalah berkurangnya jumlah kelelawar yang menyerbukka bunganya.

Tanggung jawab biodiversitas

Kepala LIPI Prof. Dr. Lukman Hakim mengungkapkan, Indonesia merupakan negara megabiodiversity. Oleh karena itu, Indonesia memikul tanggung jawab besar dalam pelestarian biodiversitas, termasuk kelelawar. Menurutnya, pelestarian kelelawar bisa dibantu dengan pemanfaatan kebun raya untuk konservasi ex situ.

Lukman mengungkapkan, "Indonesia idealnya mempunyai 54 kebun raya. Kebun raya itu terutama berfungsi untuk aktivitas penelitian, konservasi dan pendidikan. Kemudian untuk wisata."

Menurut Lukman, kebun raya sangat potensial untuk pendidikan bagi generasi muda sehingga memiliki kesadaran konservasi. Sementara, Ibnu mengatakan bahwa perlindungan kelelawar bisa dilakukan dengan memelihara kawasan karst.

"Kan sudah ada aturan kawasan karst yang bisa ditambang dan tidak. Yang ada kelelawar dan wallet kan nggak boleh ditambang. Tapi, kenyataannya sekarang kelelawarnya diusir dulu baru ditambang," ungkapnya.

Jika perlindungan kelelawar tidak dilakukan, maka ada konsekuensi yang muncul. Karena berkurangnya populasi pengontrol, maka nyamuk malaria bisa meningkat dan meningkatkan pula wabah malaria.

"Karena kelelawar itu dalam satu jam bisa makan 6.000 nyamuk," kata Ibnu.

Konsekuensi lain ialah terganggunya produksi beberapa buah. Saat ini, menurut Ibnu, ada 225 jenis kelelawar tersebar di Indonesia. 150 jenis di antaranya merupakan pemakan serangga dan 75 lainnya pemakan buah.

Indonesia menurutnya merupakan negara dengan keanekaragaman hayati kelelawar tinggi, kurang lebih 11 persen dari total jumlah spesies kelelawar dunia. Jika dieksplorasi, menurut Ibnu, masih ada 10 spesies kelelawar yang bisa ditemukan per tahunnya di Indonesia.
Share




Source: Yunanto Wiji Utomo | Tri Wahono | Senin, 6 Juni 2011 | 16:28 WIB
http://sains.kompas.com/read/2011/06/06/16284216/Sebagian.Kelelawar.Sudah.Sulit.Ditemukan

BOGOR, KOMPAS.com — Kelelawar adalah salah satu hewan yang berperan dalam penyerbukan pohon yang menghasilkan buah. Maka dari itu, kalau populasi kelelawar menyusut bahkan punah, maka buah-buah yang penyerbukannya tergantung padanya pun bisa lenyap. Demikian salah satu hal yang mengemuka dalam Konferensi Internasional Kelelawar Asia Tenggara ke-2 yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Senin ini hingga Rabu (9/6/2011) di Bogor.

Konferensi yang diikuti ilmuwan dari 20 negara ini mengangkat tema "Zoonosis dan Peran Kelelawar dalam Keseimbangan Ekosistem." Beberapa ilmuwan kelelawar yang hadir antara lain Tigga Kingston dari Texas Tech University dan Paula Racey dari University of Exeter. Sementara itu, dari Indonesia hadir Dr Siti Nuramaliati Prijono dan Dr Ibnu Maryanto dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. Beberapa di antara mereka memaparkan hasil penelitiannya.

Menggarisbawahi tema konferensi, Siti mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian, 186 spesies tumbuhan obat, penghasil kayu, dan sumber makanan tergantung pada kelelawar jenis Megachiroptera. "Kelompok jenis ini adalah pemakan buah tropikal hutan dan membuang sepah bijinya jauh dari lokasi tumbuhan. Oleh karenanya, ia dijuluki agen pemencar biji," urai Siti.

Ibnu juga menambahkan bahwa 52 jenis tumbuhan di Kebun Raya Bogor bergantung pada kelelawar. Kelelawar, masih menurut Ibnu, juga berperan dalam penyerbukan pohon yang menghasilkan buah, seperti duku, rambutan, dan durian. "Kalau kelelawar hilang, buah pun bisa lenyap," ungkapnya.

Kelelawar juga berperan dalam pengendalian populasi serangga. "Tiap jam, kelelawar itu bisa makan 6.000 nyamuk," cetus Ibnu. Dengan demikian, kelelawar juga berperan dalam pengendalian wabah penyakit seperti malaria.

Siti menambahkan, "Kelelawar berfungsi sebagai predator alami hama pertanian dan salah satu pemakan hama utama padi."

Diakui, kelelawar pun bisa membawa penyakit zoonosis, seperti rabies, hendra, dan nipah yang membunuh 40 persen manusia yang terjangkiti. Namun, Ibnu mengatakan, "Kelelawar hanya sebagai pembawa, bukan penyebab penyakit." Penyakit nipah yang disebabkan oleh virus kali pertama ditemukan di Malaysia dan telah membunuh 105 manusia.

Saat ini, Indonesia memiliki 225 spesies kelelawar. Ibnu mengatakan, 150 di antaranya merupakan spesies pemakan serangga dan 75 lainnya merupakan spesies pemakan buah. Indonesia diketahui memiliki 11 persen dari total spesies yang ada di dunia. Sebanyak 10 spesies masih mungkin ditemukan per tahunnya jika eksplorasi dilakukan secara intensif.

Meski demikian, kelelawar kini menghadapi tekanan yang besar. Ini diakibatkan oleh aktivitas perusakan kawasan karst tempat gua habitat kelelawar. Beberapa jenis kelelawar, seperti Otomops johnstonoi yang endemis di wilayah Alor dan Neopterus trostii yang endemis wilayah Sulawesi, ikut terancam.

Kepala LIPI Prof Dr Lukman Hakim mengatakan, Indonesia sebagai negara mega-keanekaragaman hayati berkewajiban melindungi hal itu, termasuk kelelawar. Ia menyebut, upaya perlindungan bisa dilakukan dengan memanfaatkan kebun raya sebagai wilayah penelitian, konservasi, dan pendidikan.

Sementara itu, Ibnu mengatakan, perlindungan bisa dilakukan dengan melindungi kawasan karst. Menurutnya, dari konferensi ini, ilmuwan akan memberikan rekomendasi bagi pemerintah. "Kelelawar adalah spesies kunci. Kalau tidak ada kelelawar, maka hal itu akan mengganggu keseimbangan ekosistem," ungkapnya. Tentang perlindungan kawasan karst, menurutnya, peraturan pemerintah untuk mengatur hal itu sudah tersedia sehingga kita tinggal melihat pelaksanaannya.

Source: Yunanto Wiji Utomo | A. Wisnubrata | Senin, 6 Juni 2011 | 16:48 WIB
http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2011/06/06/1645578620X310.jpg