
http://sains.kompas.com/read/2010/07/28/12122087/Mangrove.Jawa.dan.Bali..68.Persen.Rusak-14
Mangrove Jawa dan Bali, 68 Persen Rusak
Rabu, 28 Juli 2010 | 12:12 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kemusnahan mangrove di pesisir utara Jawa dan Bali di ambang pintu. Data yang dirilis LSM lingkungan KIARA menyebutkan, kerusakan hutan mangrove mencapai 68 persen dari periode 1997-2003. Sebagai area pemijahan dan asuhan bagi ikan, udang, dan kerang-kerangan, mangrove memberi arti penting bagi nelayan dan masyarakat pesisir. Untuk itu, pemerintah perlu menyegerakan upaya pemulihan kawasan pesisir.
"Rusaknya ekosistem mangrove disebabkan oleh limbah antropogenik daratan di sekitar pantai, khususnya limbah industri. Juga akibat konversi lahan pantai untuk kepentingan industri, kawasan perniagaan, dan permukiman mewah," kata Abdul Halim, Koordinator Program Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) dalam siaran persnya, Rabu (28/7/2010).
Hingga 2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan pemulihan kawasan pesisir seluas 1.440 hektare (ha) dari kerusakan lingkungan di sepanjang pantai nasional. Dari target 2014 seluas 1.440 ha, diharapkan capaian per tahunnya mencapai 401,7 persen.
"Besaran target yang dipatok harus dibarengi dengan kesungguhan Menteri Kelautan dan Perikanan dalam melaksanakan program. Kesungguhan ini bisa diwujudkan jika program yang dijalankan tidak berpangku pada ketersediaan anggaran semata, melainkan pada tujuan mulia program, yakni mengembalikan fungsi-fungsi ekologis dan sosial ekosistem pesisir. Dalam kondisi inilah, partisipasi nelayan dan masyarakat pesisir penting untuk dilibatkan," papar Halim.
Pada prinsipnya, mangrove adalah daerah pemijahan dan asuhan bagi ikan, udang, dan kerang-kerangan. Daerah pesisir yang memiliki mangrove juga berfungsi sebagai daerah penyangga atau filter akibat pengaruh daratan, seperti penahan sedimen dan melindungi pantai dari erosi, serta gelombang dan angin kencang.
"Hilangnya mangrove akibat konversi dan proyek reklamasi juga turut memusnahkan hutan mangrove di wilayah pesisir. Bahkan, di Langkat, Sumatera Utara, kami menemui beralihnya hutan mangrove menjadi perkebunan sawit. Inilah bentuk penghancuran hutan mangrove," jelas Halim.
Komentar:
Kerusakan mangrove forest pada saat ini di Jawa dan Bali tersebut hanyalah periode 1997-2003. Bagaimana kondisi dan berapa luas hutan mangrove sebelumnya? dan Berapa Luas hutan mangrove yang sekarang ini? Sebagian besar para pejabat Indonesia dan mememiliki kepentingan bisnis pada kawasan hutan mangrove hanya menilai kepentingan ekonomi jangka pendek, tidak melihat nilai mangrove trees sebagai indirect service bagi kehidupan manusia dan organisme yang berfungsi sebagai feeding ground, nursery ground, dan spawning ground. Philosophy para pebisnis dan kebayakan para pejabat yang hanya mementingkan kantong mereka, hanya memandang bahwa konversi kawasan mangrove forest menjadi tempat kegiatan industri, perumahan, etc akan meningkatkan pendapatan pemerintah karena sesuai dengan pembangunan berkelanjutan?????? tapi mengabaikan jasa mangrove terhadap lingkungan dan ekologi, dan tanpa ada penelitian yg jelas sebelum diadakan kegiatan tersebut sebelum konversi dilakukan dan pengetahuan mereka (pejabat) sebagian besar sebagai Ignorant. Ini kedok sebagai pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan tapi yang dilakukan mereka (para pejabat) sebenarnya adalah ekologi yang tidak berkelanjutan.
RSS Feed
Twitter
2:17:00 pm
Unknown

